dark tourism

mengapa manusia sangat tertarik mengunjungi lokasi tragedi dan kematian

dark tourism
I

Bayangkan kita sedang menyusun rencana liburan akhir tahun. Pikiran pertama yang muncul biasanya adalah pantai berpasir putih, kuliner lezat, atau mungkin pegunungan yang sejuk. Tapi anehnya, tidak sedikit dari kita yang malah memasukkan kamp konsentrasi Auschwitz, kota mati Chernobyl, atau Museum Tsunami Aceh ke dalam daftar kunjungan utama. Pernahkah teman-teman merasa heran, kenapa kita rela menabung dan terbang jauh-jauh hanya untuk berdiri di tempat di mana ribuan nyawa pernah melayang? Ada sebuah istilah khusus untuk fenomena ini: dark tourism atau pariwisata gelap. Sekilas, hobi ini mungkin terdengar agak menyeramkan, muram, atau bahkan dianggap kurang sopan oleh sebagian orang. Tapi mari kita singkirkan dulu prasangka buruk kita. Fenomena ini sama sekali bukan tentang hal-hal mistis. Sebaliknya, ia menyimpan rahasia saintifik yang sangat besar tentang cara kerja otak kita dalam merespons ketakutan, rasa ingin tahu, dan kematian itu sendiri.

II

Kalau kita mengira dark tourism adalah tren aneh anak zaman sekarang yang kecanduan menonton dokumenter kriminal di Netflix, kita salah besar. Ketertarikan manusia pada lokasi tragedi nyatanya sudah setua peradaban kita sendiri. Ribuan tahun yang lalu, penduduk Roma berbondong-bondong datang ke Colosseum untuk melihat pertarungan gladiator yang berdarah. Di Eropa abad pertengahan, eksekusi mati di alun-alun kota selalu menjadi tontonan publik yang ditunggu-tunggu oleh warga sipil. Jadi, ini bukanlah sekadar tren masa kini. Ini adalah bagian dari DNA psikologis kita sebagai manusia. Tapi, pertanyaannya kemudian berkembang menjadi lebih rumit. Kenapa kita seolah terprogram secara biologis untuk mendekati hal-hal yang berbau maut? Bukankah secara evolusi, insting dasar manusia adalah berlari sejauh mungkin dari sumber bahaya? Di sinilah misterinya mulai terkuak perlahan. Ada sesuatu yang sangat spesifik yang sedang dicari oleh pikiran alam bawah sadar kita saat kita melangkah masuk ke bekas lokasi bencana.

III

Para psikolog evolusioner sering menyebut dorongan ganjil ini sebagai morbid curiosity, atau keingintahuan terhadap hal-hal yang mematikan. Saat kita berada di lokasi tragedi, perasaan kita sering kali campur aduk menjadi satu. Ada rasa sedih, ngeri, dada terasa sesak, namun di saat yang sama, mata kita tidak bisa berpaling. Kita membaca setiap plakat nama korban secara perlahan. Kita memandangi puing-puing bangunan dengan saksama. Para ilmuwan sosial melihat fenomena ini melalui kacamata Terror Management Theory. Teori ini secara sederhana bilang bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk di bumi yang sadar penuh bahwa suatu hari nanti, kematian pasti akan menjemput. Kesadaran akan kefanaan ini sebenarnya menciptakan "teror" tersembunyi di dalam kepala kita setiap hari. Untuk meredam teror tersebut, kita berusaha keras mencari makna kehidupan. Tapi tunggu dulu. Kalau kita memang sebegitu takutnya pada kematian, kenapa kita malah sengaja membayar tiket untuk masuk ke tempat di mana kematian itu pernah terjadi secara massal? Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada sistem saraf kita saat kita mematung berdiri di sana?

IV

Di sinilah sains saraf atau neuroscience memberikan jawaban yang sangat brilian. Saat kita mengunjungi lokasi tragedi, bagian otak kita yang bernama amigdala—yakni pusat alarm bahaya kuno di otak kita—mulai menyala. Otak mendeteksi aura ancaman dari cerita-cerita kelam di sekitar kita. Namun, ada satu hal yang sangat krusial: kita berada di sana setelah tragedi itu selesai. Secara rasional, kita tahu bahwa kita aman. Kondisi "aman dari ancaman" ini membuat bagian otak logis kita, atau prefrontal cortex, mengambil alih kendali. Hasilnya? Tubuh kita tidak melepaskan hormon stres yang membuat panik, melainkan justru memicu pelepasan dopamin dan sedikit adrenalin. Mengapa? Karena otak kita menganggap ini sebagai sebuah simulasi bertahan hidup. Secara evolusioner, mengamati sisa-sisa tragedi adalah cara manusia belajar mengenali bahaya tanpa harus menjadi korban. Kita sedang memindai ancaman masa lalu untuk melindungi diri di masa depan. Jadi, ketertarikan kita pada lokasi tragis bukanlah tanda bahwa kita kurang empati atau punya jiwa psikopat. Sebaliknya, itu adalah peretasan otak atau brain hack untuk berdamai dengan ketakutan terbesarnya, di dalam sebuah lingkungan yang sepenuhnya terkendali.

V

Pada akhirnya, perjalanan ke tempat-tempat gelap ini memberikan kita sesuatu yang sangat berharga sebagai manusia. Kita tidak sekadar melihat sisa kehancuran dari balik lensa kamera. Kita sedang terhubung secara emosional lintas waktu dengan mereka yang sudah tiada. Saat kita terdiam atau tanpa sadar meneteskan air mata di depan monumen peringatan, kita sedang mempraktikkan empati di tingkat tertinggi. Kematian, yang di kehidupan modern sering kali menjadi hal yang abstrak dan tabu untuk dibicarakan, tiba-tiba menjadi sangat nyata, membumi, dan bisa kita terima dengan dada lapang. Dark tourism memaksa kita untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan yang serba cepat. Ia mengingatkan kita bahwa sejarah tidak melulu berisi kemenangan yang heroik, tapi juga rasa sakit kolektif yang harus kita pelajari bersama agar tidak terulang. Jadi, tidak perlu merasa bersalah atau aneh jika suatu hari nanti teman-teman merencanakan kunjungan ke lokasi-lokasi bersejarah yang kelam. Sebab justru di tempat di mana kematian pernah berkuasa, kita sering kali belajar tentang cara terbaik untuk menghargai sisa kehidupan yang kita miliki.